Jumat, 16 Maret 2018

Teori Emosi dan penerapannya dalam hidup

Terkadang kenyataan itu tidak sama dengan apa yang kita inginkan.
"Kecewa", "Marah", dan "Sedih" itulah emosi yang kita rasakan sebagai manusia. Emosi bisa dirasakan oleh manusia dan hewan. Tumbuhan mungkin bisa mengalami emosi, namun tidak mudah dilihat. (teoriku sendiri)
Dalam penerapannya, aku sendiri bisa merasakan ketika Pippo (anjingku), marah, sedih, tidak nyaman, senang, ataupun takut.


Kenapa tiba-tiba aku ingin membahas mengenai emosi? 


Aku ingin menghubungkan apa yang aku rasakan (emosi) dengan teori-teori psikologi yang ada.
Seperti yang dilakukan oleh pelangganku. Dia ingin melogikakan perasaan emosi yang dia rasakan dengan membuat teori emosinya sendiri.
Berbeda denganku, aku ingin tahu dulu teori-teori emosi yang dipikirkan pendahuluku yang lebih senior. Baru aku mengambil kesimpulan dan melakukan "Menejemen Emosi". (mengendalikan emosi)

Karena Manusia mempunyai "Akal Budi", jadi sebagai manusia seharusnya aku bisa mengendalikan emosiku sendiri. Tidak seperti hewan yang tidak bisa mengendalikan emosinya. Pengendalian emosi sepertinya cukup populer. Nanti akan aku bahas juga.

Emosi apa yang ingin aku kendalikan?

Rasa Suka atau Cinta.
Kalau pada umumnya, orang mengendalikan rasa Marah atau Takut karena menghasilkan efek negatif pada dirinya maupun lingkungan. Aku pun begitu. Aku ingin mengendalikan Rasa "Suka"ku untuk menghindari efek negatif yang akan terjadi pada diriku.
Perasaan itu timbul begitu saja. Namun tidak demikian. Aku mulai mengingat-ngingat dan mencari tahu kenapa perasaan itu bisa muncul. Ternyata ada stimulus yang terus menerus datang kemudian membuat aku merasa nyaman, timbulah rasa "suka". Tanpa aku sadari stimulus ini melekat dalam alam bawah sadar. (dan belum bisa sepenuhnya hilang) 



Ketika ada "berrier", aku menerimanya secara rasional. Tanpa menyadari perasaan suka yang sudah tertanam. Perasaan itu tertanam di alam bawah sadar. Efek negatifnya, sekarang adalah aku kesulitan menerima stimulus lain karena dialam bawah sadar  masih ada rasa "Suka" pada stimulus pertama. Jadi untuk menerima stimulus lain, mungkin terlebih dahulu aku mengurangi rasa yang ada. 

Ini sih yang aku pikirin sekarang.
[sumpah bahasannya kok jadi berat gini]


Sebenernya aku aja yang menyampaikannya dengan bahasa yang berat. Masalah sebenernya simple kok.
Contohnya gini aja, Aku suka sama seseorang, tapi orang itu gak suka sama aku. Lalu apa yang terjadi?
Ketika aku suka, aku mengharapkan orang tersebut juga memiliki perasaan yang sama. Namun ketika hal yang aku inginkan tidak terjadi, maka perasaan yang mungkin muncul adalah Marah? Kecewa? Sedih?
Untuk mengendalikan emosi-emosi negatif itu, maka aku harus melakukan menejemen emosi. Disini, mungkin kemampuan pengendalian emosiku (EQ) diasah.


Pertama, aku sudah mencoba dengan cara memasukan logika yang rasional. Misalnya "aku gak mungkin membuat semua orang suka padaku.", "mungkin aku bukan tipe atau orang yang dia suka", "Mungkin dia bukan orang yang terbaik untuk diriku.", dan seterusnya. Pernyataan-pertaan ini untuk meredam emosi-emosi negatif yang terjadi (Marah, Sedih atau Kecewa). Namun belum tentu bisa meredam emosi positif yang terjadi di awal yaitu, "Suka".


Terkadang, yang sering aku temui di lingkungan sekitarku. Untuk meredam rasa "Suka", orang-orang akan mengalihkan rasa sukanya. Entah itu mengalihkan dengan kegiatan lain, atau ke objek lain.
Hal itu mungkin sudah aku lakukan. Aku mengurangi Stimulus yang menumbulkan rasa suka, dan megalihkannya ke hal-hal lain. Namun aku belum menemukan objek lain.



Entah kenapa, sekarang-sekarang ini sulit rasanya merasa "bahagia" atau "gembira". Aku Cemas kalau ini berhubungan dengan Emosi yang belum hilang itu. Atau tidak ada hal atau stimulus lain yang membuat aku benar-benar bahagia.

Aku jadi mikir,

Perasaan manusia itu luas dan dalam. Seperti lautan yang tidak habis untuk dijelajahi.
Kehidupan manusia itu singkat, namun harus mengendalikan dan menguasai semua emosinya yang begitu luas dan dalam.
 [tiba-tiba puitis]
Maka dari itu topik ini sangat penting dan ingin aku bahas.



Sampe aku pending dulu nulis review film di blog sebelah. Mungkin efek wanita PMS. [curhat]



Lebih serius membahas Topik. Aku sudahi pembukaan di atas. [yang di atas itu prolog atau pendahuluan aja. Isinya yang lebih berbobot di bawah ini.]



Emosi

Emosi merupakan sebuah frasa yang berasal dari bahasa latin "emovere" yang artinya bergerak menjauh, tambahan huruf “e” disini adalah untuk memberi kesan arti bergerak menjauh. Hal ini menunjukan bahwa dalam emosi, ada sebuah kecenderungan dalam mengambil tindakan. [sumber]  klik disini untuk tahu aku dapet infonya dari mana.

Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. [Sumber] Fungsi psikis manusia yang meliputi penilaian, pemikiran, tanggapan dan kehendak merupakan ranah afektif dimana emosi berada. 

Bapak Daniel Goleman, sebagai pakar psikologi yang mendalami ilmu kecerdasan emosional. Beliau menyatakan bahwa emosi adalah hal yang rumit, kemudian membuat identifikasi emosi menjadi: Rasa Marah (kebencian, tersinggung, permusuhan dan tindakan kekerasan).
  1. Rasa Sedih (kesepian, depresi, kasihan terhadap diri, putus asa dan melankolis).
  2. Rasa Takut (kecemasan, kekhawatiran, fobia, rasa panik dan gugup).
  3. Rasa Nikmat (kesenangan, kepuasan dan perasaan bahagia).
  4. Rasa Cinta (kebaikan hati, kedekatan, kasih sayang, kepercayaan dan kasmaran).
  5. Rasa Terkejut (ketakjuban dan rasa terpesona).
  6. Rasa Jengkel (rasa kehinaan, rasa muak dan tidak suka).
  7. Rasa Malu (perasaan bersalah, menyesal dan kesal hati).



Teori (proses terjadiya emosi)
Banyak pakar psikologi yang mengutarakan pendapatnya mengenai Emosi. Dari yang menghubungkan waktu terjadinya emosi dan efek fisiologis yang terjadi. Hingga pakar yang menghubungakn emosi dengan kognitif.



Aku baca sebuah artikel di blog orang lain [Sumberyang menceritakan tokoh-tokoh ini bergulat pendapat mengenai Emosi. Aku tulisin aja kesimpulannya. 



Anggep aja aku lagi nulis ringkasan dari materi yang dikasih dosen.
Bapak Carl Lange dari Denmark mengatakan "Emosi identik dengan perubahan-perubahan dalam sistem peradaran darah"
Kemudia Bapak William James dari Amerika Serikat, setuju dan mengatakan "Emosi adalah hasil persepsi sesseorang terhadap perubahan-perubaha yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari luar"

Intinya kedua bapak ini sepakat kalau "Aspek persepsi terhadap respon fisiologis yang terjadi ketika ada rangsangan datang sebagai pemicu emosi.  Perubahan fisiologis itu diterjemahkan menjadi emosi."

Rangsangan - Persepsi - Respon Fisiologis - Emosi

[kira-kira begini urutan menurut kedua bapak ini]

Kemudian ada yang kontra dengan pendapat mereka. 
Bapak W. B. Cannon dan Philip Bard berpendapat  "Persepsi terhadap obyek yang dapat menimbulkan emosi diproses secara simultan oleh dua instansi yakni sistem syaraf otonom dan cerebal cortex.

Intinya bapak-bapak ini mau ngomong kalau "emosi dengan perubahan fisiologis terjadi secara bersamaan."
 Rangsangan - Persepsi - Respon Fisiologis + Emosi

Kemudian ada Bapak Atkinson, yang berpikiran netral mengatakan kalau teori mereka cuma perbedaan waktu aja.
 "Pengalaman sadar kita tentang emosi melibatkan integrasi informasi tentang keadaan fisiologi tubuh dan informasi tentang situasi yang membangkitkan emosi. Kedua macam informasi itu cenderung berkesinambungan dalam waktu, dan integrasinya menentukan intensitas serta sifat keadaan emosional yang kita rasakan. Dalam kerangka konseptual ini, perbedaan waktu yang dibuat oleh teori James-Lange dan Cannon-Bard tidak terlalu berarti."

Kalau dalam bahasa gaol itu kaya gini "Waktu terjadi emosi itu gak penting".

Kemudian ada Bapak Stanley Schachter dan Jerome Singer membuat sebuah teori yang disebut "two-factor theory of emotion". 
Yang menyebutkan "Emosi merupakan fungsi interaksi antara faktor kognitif dan keadaan keterbangkitan fisiologis."

Prosesnya begini:
Stimulus - Perubahan fisiologis - Persepsi dan Interpretasi dari informasi dan pengalaman
- Emosi Subyektif

Teori ini di kritik lagi sama Bapak Atkinson, 
"Pengalaman emosional tidak sesederhana yang dinyatakan oleh teori Schachter. Interpretasi emosional merupakan fungsi yang rumit dari pengalaman masa lampau dan situasi hidup masa ini. Faktor kognitif mempengaruhi emosi, tetapi tidak benar bila disimpulkan bahwa hanya faktor ini yang menentukan emosi yang dialami."

Bahasa gaolnya tuh "emosi itu ga segampang yang lo pikirin"

Bapak Richard S. Lazarus, mencoba melengkapi teori Schachter-Singer. Dengan menambahkan unsur penilaian Kedapam proses Emosi. Jadi Hasil Penilaian dan Evaluasi berpengaruh besar pada emosi. 


kira-kira begini:
Stimulus - Persepsi dan Interpretasi Pengalaman - Evaluasi dan Appraisal (penilaian) -  Emosi -Reappraisal (penilaian ulang) - Emosi (berubah)
Plis kalo salah jangan marah-marah ya.
Sejujurnya aku juga bingung sama proses aslinya teori ini. Tapi intinya itu lebih ditekankan pada proses penilaian. Dan penilaian itu bisa berubah. 
"Pengalaman menunjukkan bahwa penilaian tidak selamanya benar atau keliru. Penilaian (appraisal) dan reappraisal sangat tergantung pada realitas lingkungan dan faktor-faktor kepribadian."
Jadi gak terlalu sederhana seperti yang di harapkan bapak Atkinson. 

Ada tokoh-tokoh lain menghubungakn Emosi dengan banyak item (variable) lain. Diantaranya,

R.W. Leeper (aku gak tau dia laki-laki atau perempuan) berkata "emosi sebagai rangkaian dari motivasi. Emosi dan motif adalah sama, dalam arti emosi merupakan bagian dari motif-motif (doronga-dorongan)."S.S. Tomkins mengatakan "Emosi merupakan energi bagi dorongan-dorongan yang selalu muncul bersama"
Intinya emosi berpengaruh atau dipengaruhi oleh motivasi.
Mungkin ada Bab atau Sub Bab khusus disalah satu buku yang menjelaskan teori ini lebih terperinci.
Teori ini juga berkaitan dengan "Kecerdasan Emosi" yang mau aku bahas nanti.

Kemudian, ada lagi Teori Proses-Berlawanan.
Bapak Ridhard Solomon berpendapat, "Otak manusia berfungsi memicu emosi berlawanan yang akan selalu muncul dalam satu rentetan peristiwa". Emosi ini dimanakan emosi primer dan emosi sekunder. Menurut beliau emosi bisa naik dan turun, Otaklah yang terus-menerus berfungsi memelihara keseimbangan atau menjaga kondisi ekuilibrium itu.
Jadi tuh intinya, kaya ada 1 masalah tapi ada 2 emosi yang kita rasakan. Emosi ini saling bertentangan tapi ada salah satu yang lebih di unggulkan.

Aku kasih contoh, makan gorengan pake cabe rawit. Sebelum makan muncul emosi "takut" pedas, kemudian dia makan dan merasakan "senang" sudah bisa makan gorengan dengan cabe rawit. (entah dia senang karena bangga bisa makan cabe atau senang ternyata cabenya ga pedes.) Terjadi 2 emosi pada 1 stimulus. Takut = emosi Primer, Senang = Emosi Sekunder.
Suatu hari Emosi Primernya akan berkurang atau bertambah karena emosi sekunder.

Dalam Artikel itu, ada satu lagi teori yang dibahas, yaitu teori dimensi. Dan aku baca berulang-ulang gak ngerti sama isinya. Jadi kita skip aja ya.

Teori Kecerdasan Emosi (EQ)

Kanapa aku bahas ini?

Ternyata saking pentingnya emosi manusia itu, hingga mempengaruhi kecerdasan seseorang. NOOOOOO.
Emosi memiliki kategori kecerdasan sendiri. Berbeda jauh dengan Kecerdasan Intelektual (IQ). Seseorang yang memiliki kecerdasan Intelektual yang tinggi, misalnya pandai menangkap stimulus dan cepat meresponnya, atau kemampuan memory yang baik. Belum tentu orang tersebut memiliki kecerdasan emosi yang baik.

Ternyata dalam banyak penelitan Psikologi, kemampuan mengendalikan emosi seseorang menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan. Jadi dalam berbagai hal, Kecerdasan Emosi sangat dibutuhkan.

Sejujurnya, teori-teori kecerdasan emosi lebih mudah dicari. 
Aku cuma bahas sedikit aja karena aku baru menyadari, bukan kecerdasan emosi yang menjadi masalah utamaku sekarang. (setelah baca beberapa artikel dan memahami beberapa hal)

Tokoh yang paling terkenal dalam teori ini adalah Bapak Daniel Goleman. Bahkan dia membahas mengenai Emosi dan Kecerdasan Emosi dalam 1 buku. 
Dalam teorinya, Kecerdasan emosi memiliki 5 unsur atau aspek penentu tingkat kecerdasan emosi seseorang. (untuk yang lagi nulis skripsi tentang Emosi, mungkin unsur-unsur ini yang dipake sebagai tolak ukur)

1. Kasadaran Diri
Kalah bahasa ilmiahnya itu Metakognisi, yaitu kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Bagi Bapak Goldeman, "Kesadaran diri adalah mengetahui apa yang dirasakan pada suatu stimulus, dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat"
Ciri-cirinya,
  • Sadar tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya.
  • Menyempatkan diri untuk merenung, belajar dari pengalaman.
  • Terbuka terhadap umpan balik yang tulus, bersedia menerima perspektif baru, mau terus belajar dan mengembangkan diri sendiri.
  • Mampu menunjukkan rasa humor dan bersedia memandang diri sendiri dengan perspektif yang luas dengan pandai menangani kesedihan 
Oke, kalau dilihat dari ciri-cirinya, aku cukup memiliki kesadaran dari.

2. Pengaturan Diri
        Pengaturan diri adalah pengelolaan impuls dan perasaan yang menekan. Dalam kata Yunani kuno, kemampuan ini disebut sophrosyne, “hati-hati dan cerdas dalam mengatur kehidupan, keseimbangan, dan kebijaksanaan yang terkendali”. 
aspek-aspek pengaturan diri:
  • Pengendalian diri, yaitu mengelola dan menjaga agar emosi dan impuls yang merusak tetap terkendali.
  • Inovasi, yaitu bersikap terbuka terhadap gagasan-gagasan dan pendekatan-pendekatan baru, serta informasi terkini. 
  • Adaptabilitas, yaitu keluwesan dalam menanggapi perubahan dan tantangan
  • Kehati-hatian, yaitu dapat diandalkan dan bertanggung jawab dalam memenuhi kewajiban.
  • Dapat dipercaya dan kehati-hatian yaitu memelihara norma kejujuran dan integritas
Kayanya disini ada beberapa aspek yang gak masuk di aku, salah satu kehati-hatian. Akutuh orangnya ceroboh. Aku sadar itu kok.

3. Motivasi
    Motivasi yaitu menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun  menuju sasaran, membantu untuk mengambil inisiatif untuk bertindak secara efektif, dan untuk bertahan menghadapi kegagalan atau frustasi.
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting yang berkaitan dengan memberi perhatian, memotivasi diri sendiri, menguasai diri sendiri, dan berkreasi.


Dengan adanya unsur motivasi, menabah deretan pentingnya "kecerdasan emosi".

Pada dasarnya ada empat kemampuan motivasi yang harus dimiliki: 
  • Dorongan prestasi, yaitu dorongan untuk meningkatkan atau memenuhi standar keunggulan.
  • Komitmen, yaitu menyelaraskan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga.
  • Inisiatif (initiative), yaitu kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan.
  • Optimisme, yaitu kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan
         Mungkin aku gak terlalu punya dorongan prestasi, karena kurangnya rasa percara diri. Tapi sekarang aku bikin suatu tujuan yang membutuhkan komitmen. Emang gak berhubungan sama kasus yang lagi aku bahas, tapi mungkin bisa menolong. Inisiatif punya, contohnya aku memanfaatkan blog untuk mencapai tujuanku. Yang sekarang sedang proses juga. Masalahnya Optimisme. Antara Yakin gak yakin aku sama tujuanku, tapi aku bersikap pasrah aja. Yang penting sudah mencoba dan berusaha. Aku gak mau nanti jadi kecewa, marah atau gak bahagia karena terlalu optimis. (seperti mencari alasan karena adanya rasa takut)

4. Empati
     Empati adalah memahami perasaan dan masalah orang lain dan berfikir dengan sudut pandang mereka, menghargai perbedaan perasaan orang mengenai berbagai hal. Empati dapat dipahami sebagai kemampuan mengindera perasaan dan perspektif orang lain. Karena empati menekankan pentingnya mengindera perasaan dari perspektif orang lain sebagai dasar untuk  membangun hubungan interpersonal yang sehat.
Kemampuan memahami cara-cara komunikasi yang sementara ini dibangun di atas kecakapan-kecakapan yang lebih mendasar, khususnya kesadaran diri (self awareness)  dan kendali diri (self control)Seseorang semakin mengetahui emosi sendiri, maka ia akan semakin terampil membaca emosi orang. 

     Namun ada kalanya seseorang tidak memiliki kemampuan  berempati, seperti orang yang melakukan kejahatan-kejahatan sadis, dan penderita eleksitimia (ketidakmampuan mengungkapkan emosi).
Menurut Bapak Goleman, ada lima kemampuan empati, yaitu
  • Memahami orang lain, yaitu mengindera perasaan-perasaan orang lain, serta mewujudkan minat-minat aktif terhadap kepentingan-kepentingan mereka.
  • Mengembangkan orang lain yaitu, mengindera kebutuhan orang lain untuk berkembang dan meningkatkan kemampuan mereka.
  • Orientasi pelayanan, yaitu mengantisipasi, mengakui, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan.
  • Memanfaatkan keragaman, yaitu menumbuhkan kesempatan (peluang) melalui perga agak ulan dengan bermacam-macam orang.
  • Kesadaran politik, yaitu mampu membaca kecenderungan sosial dan politik yang sedang berkembang. 
Ahhh.... Aku selalu berusaha memahami orang lain untuk mempermudah toleransi dan menekan emosi negatif. Jadi tekniknya menempatkan diri sendiri di posisi orang lain, dan mencari tahu mengapa orang tersebut berprilaku. Untuk mengembangkan orang lain sih aku gak punya kepercayaan diri ya. Memanfaatkan keragaman, ini juga agak susah. Apa lagi persepsi negatif dari diriku dan lingkungan sekitarku. Memang negaraku kaya, sangat beranekaragam suku bangsa. Tapi justru keanekaragaman menjadi ajang diskriminasi. Jadi untuk memanfaatkan keragaman, agak sulit.
Kesadaran politi? maksudnya sadar kalau politik itu kotor? atau kesadaran bahwa politik sudah menajdi bisnis?
(sinis)


5. Keterampilan sosial 
Keterampilan sosial (social skills), adalah kemampuan untuk menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan keterampilan untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan untuk bekerjasama dalam tim.
Kesadaran sosial juga didasarkan pada kemampuan perasaan sendiri, sehingga mampu menyetarakan dirinya terhadap bagaimana orang lain beraksi. 
beberapa kecakapan keterampilan sosisal, dianataranya:
  • Pengaruh, yaitu terampil menggunakan perangkat persuasi secara efektif.
  • Komunikasi, yaitu mendengarkan serta terbuka dan mengirimkan pesan serta meyakinkan.
  • Manajemen konflik, yaitu merundingkan dan menyelesaikan ketidaksepakatan.
  • Kepemimpinan, yaitu mengilhami dan membimbing individu atau kelompok.
  • Katalisator perubahan, yaitu mengawali atau mengelola perubahan.
  • Membangun hubungan, yaitu menumbuhkan hubungan yang bermanfaat.
  • Kolaborasi dan kooperasi, yaitu kerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama.
  • Kemampuan tim, yaitu menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.
Ini yang sulit. Menyatukan banyak pemikiran itu memang susah. apa lagi dihadapkan oleh ego yang kuat. Kebanyakan orang lebih suka didengar ketimbang mendengar pendapat. Tapi yang bisa meredam itu semua adalah kesamaan tujuan. Jika memiliki tujuan yang jelas, maka masing-masing individu bisa meredam ego mereka dan lebih bertoleransi.
Menyamakan tujuan pun memiliki tantangan tersendiri, karena terkadang beda orang beda tujuan.



Perasaan VS Emosi

     Setelah membaca beberapa artikel, Aku memahami satu hal. "Emosi" dan "Perasaan" adalah variable yang berbeda.
Kedua variable ini bisa saling mempengaruhi, dan mirip-mirip. 

Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilai sebagai keadaan positif dan negatif seperti perasaan senang dan tidak senang.
Perasaan merupakan pernyataan jiwa, yang sedikit banyak bersifat subjektif. Perasaan tidak bergantung kepada perangsang dan alat-alat indra, seperti halnya emosi. Dalam psikologis, perasaan mempunyai fungsi menilai, yaitu penilaian terhadap sesuatu hal.
Contohnya seperti merasa senang ketika berada bersama teman-teman. Walaupun teman-temanku tidak cantik atau tidak ganteng.

Perasaan selalu bersifat subjektif karena ada unsur penilaian tadi biasanya menimbulkan suatu kehendak dalam kesadaran seseorang individu. 
Kehendak itu bisa positif artinya individu tersebut ingin mendapatkan hal yang dirasakannya suatu yang memberikan kenikmatan kepadanya, atau juga bisa negatif artinya ia hendak menghindari hal yang dirasakannya sebagai hal yang akan membawa perasaan tidak nikmat kepadanya.

Benang merahnya disini:  Ketika perasaan menimbulkan kehendak, dan mempengaruhi emosi. Disisi ini Kecerdasan Emosi perlukan. 

Karena Tidak ada namanya "manajemen perasaan" atau "kecerdasan perasaan"
Emosi bisa kita atur, namun perasana lebih sulit di kendalikan.
Mungkin untuk mengendalikan perasaan, terlebih dahuli kita harus bisa mengendalikan emosi.

Banyak juga tokoh-tokoh yang menggolongkan perasaan. Diantaranya: [sumber]

Bapak Max Scheler membagi perasaan menjadi empat golongan perasaan.
  • Perasaan pengindraan, seperti rasa panas, dingin dan sakit.
  • Perasaan vital, seperti rasa lesu, segar.
  • Perasaan psikis, seperti rasa senang, sedih.
  • Perasaan pribadi, seperti perasaan terasing.

Bapak W. Stren menggolongkan perasaan berdasarkan waktu:
  • Perasaan yang bersangkutan dengan masa kini, misalnya perasaan senang yang diperlihatkan masa sekarang dalam hubungan dengan ransangan-ransangan yang dialami pada waktu sekarang juga.
  • Perasaan yang bersangkutan dengan masa lampau, misalnya perasaan senang pada waktu sekarang yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa di masa lampau.
  • Perasaan yang bersangkutan dengan masa yang akan datang, misalnya perasaan senang sehubungan dengan peristiwa-peristiwa yang akan datang.

Bapak Agus Sujanto, menggolongkan perasaan menjadi 2 golongan:
  • Golongan Eukoloi (orang yang selalu merasa senang, gembira dan optimis)
  • Golongan Diskoloi (orang yang selalu merasa tidak senang, murung dan pesimis)

Drs. Agus Sujanto membagi rumpun perasaan sebagai berikut:
  • Perasaan rendah (biologis) seperti: perasaan keinderaan (sensoris), Perasaan vital (kehidupan), Perasaan tanggapan, Perasaan instink.
  • Perasaan luhur (rohani) seperti: Perasaan keindahan, Perasaan intelek, Perasaan kesusilaan, Perasaan keTuhanan, Perasaan diri, Perasaan simpati, dan Perasaan sosial.


Ada tips-tipa mengendalikan perasaan: [Sumber]
1. Meresapi perasaan, 
  • Sadari bahwa perasaan adalah validasi dari pergumulan internal kita.
  • Atur napas dalam-dalam. 
  • Kenali perasaan.
  • Identifikasikan perasaan itu.
  • Terima perasaan tersebut
2. Memproses Perasaan
  • Tuliskan apa yang dirasakan selama 15 menit.
  • Cermati segala pikiran negatif dan semua polanya.
  • Tuliskan respons seakan-akan Anda menulis untuk sahabat karib.
  • Baca respons Anda.

3. Memproses Perasaan Bersama Orang yang Dipercaya
  • Cari orang yang tepercaya dan enak diajak bicara. 
  • Beri tahu orang itu tentang perasaan Anda. 
  • Minta opini orang tepercaya itu mengenai permasalahan Anda. 
4. Menangani Sumber Perasaan

  • Atasi pikiran negatif.
  • Pikirkan segala hal yang bisa dilakukan untuk mengubah keadaan.

5. Lakukan perbaikan.
  • Buka lembaran baru kehidupan.
  • Temui terapis. 
oke, proses ini aku sudah lakukan hingga yang ke 3. Aku lagi melakukan yang ke 2 sambil mencari tahu cara untuk melakukan yang nomer 4. Untuk proses terakhir, sepertinya itu yang ingin aku lakukan.

"Buka lembara baru kehidupan"


nb: nulis segitu panjang, sampe 2 hari. Solusinya cuma 1 kalimat. 1  kalimat yang belum aku kerjain.

1 celoteh:

Psikologi Kepribadian mengatakan...

bagus tulisannya... tentang psikologi juga.

 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo